24 Desember 2009

HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PSIKOLOGI AGAMA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap adikodrati (supernatural) memang memiliki latar belakang sejarah yang sudah lama dan cukup panjang. Latar belakang ini dapat dilihat dari berbagai pernyataan para ahli yang memilili disiplin ilmu yang berbeda, termasuk para agamawan yang mendasarkan pada informasi kitab suci masing-masing.[1]

Menurut agamawan selanjutnya, bahwa memang pada batas-batas tertentu, barangkali permasalahan agama dapat dilihat sebagai fenomena yang secara empiris dapat dipelajari dan diteliti. Tetapi dibalik itu semua ada wilayah-wilayah khusus yang sama sekali tidak mungkin atau bahkan terlarang untuk dikaji secara empiris. Perbedaan pendapat yang dilatar belakangi perbedaan sudut pandang antara agamawan dan para psikologi agama ini sempat menunda munculnya psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sehingga, psikologi agama sebagai cabang psikologi baru tumbuh sebagai disiplin ilmu sekitar penghujung abad ke-19, setelah sejumlah tulisan dan buku-buku yang menjadi pendukungnya diterbitkan dan beredar.[2]

Kemudian temuan-temuan psikologi agama tentang perkembangan rasa keagamaan pada anak-anak dan para remaja ternyata juga dapat membantu para pendidik agama. Dengan demikian psikologi agama dapat pula difungsikan sebagai ilmu bantu dalam bidang pendidikan agama.

B. Perumusan Masalah

Pada bab berikutnya penulis akan mencoba memaparkan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan psikologi agama, diantaranya:

1. Apa pengertian psikologi dan psikologi agama?

2. Apa pengertian Pendidikan Agama Islam?

3. Mengapa psikologi agama berkaitan dengan pendidikan agama Islam?

C. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini, agar kita dapat memahami dan mengetahui tujuan guru pendidikan agama Islam tidak hanya memberikan teori-teori tentang agama, akan tetapi juga menjadikan seseorang memiliki nilai agama dalam diri manusia yang mengikat.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

1. Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa yaitu aktivitas dalam diri manusia yang mendorong perilaku manusia yang mencakup 7 aspek jiwa.

mendorong

Jiwa (psyche) Perilaku (behavior)

- Aktifitas internal - Eksternal activities

- Unobservable - Observable

Aspek-aspek komponen jiwa, yaitu :

1) Kognisi

Kognisi adalah kondisi jiwa yang terkait dengan proses memperoleh pengetahuan. Dan pengetahuan adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam diri manusia melalui penginderaan.

v Proses Kognisi

Penginderaan Persepsi Memori Penggunaan

STM LTM -Untuk berfikir

- Untuk memilih

- Untuk memutuskan

2) Afeksi adalah semua komponen selain kognisi, yaitu :

a. Motifasi adalah alasan kuat atau dorongan dari dalam untuk mencapai tujuan.

b. Emosi adalah perasaan yang kuat yang berbentuk reaksi jiwa secara spontan terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba.

c. Daya sosial adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung yang disertai emosi terhadap objek.

d. Daya moral adalah dorongan untuk taat aturan.

e. Daya estetika adalah hal yang membicarakan tentang keindahan.

f. Daya agama adalah peraturan tentang cara hidup, lahir batin.

2. Psikologi Agama

Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab (Jalaludin, et al, 1979: 77). Selanjutnya, agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci.

Seorang ahli jiwa W. H. Clark masih dengan tegas mengakui bahwa tidak ada yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat definisi untuk agama.[3] Karena pengalaman agama adalah subyektif, intern dan individual, dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang lain. Dengan demikian dapat didefinisikan, psikologi agama adalah ilmu yang membahas yaitu aktivitas dalam diri manusia dan mencakup salah satu aspek jiwa yaitu agama.

B. Pengertian Pendidikan Agama Islam.

Pendidikan merupakan kegiatan atau usaha sadar yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengembangkan potensi manusia, memberikan kecakapan, sikap yang sesuai dengan tujuan pendidikan sedangkan potensi sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan atau fitrah yang dibawa manusia yang mempunyai kemungkinan untuk menjadi kemampuan riil.

Pendidikan agama Islam adalah segala usaha sadar untuk membimbing jasmani dan rohani seseorang menuju kearah terbentuknya kepribadian musim yang muttaqiem.

Kepribadian muslim adalah kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, memutuskan, serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Muttaqiem adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, sedangkan taqwa artinya mentaaati atau meaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarangNya, beramar ma’ruf nahi mungkar.

C. Keterkaitan Antara Psikologi Agama dengan Pendidikan Agama Islam.

Pendidikan Islam erat kaitannya dengan psikologi agama. Bahkan psikologi agama digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama (sesuai dengan ajaran agama) dan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.

Agar dapat membawa anak pada perkembangan yang diharapkan, tentu saja pekerjaan itu tidak mudah, kecuali kalau guru agama itu mempunyai bekal yang cukup, diantaranya:

· Pribadi guru agama itu sendiri; dia harus mempunyai pribadi yang dapat dijadikan contoh dari pendidikan agama yang dibawakannya kepada anak. Dia harus mempunyai sifat-sifat yang diharapkan dalam agama (jujur, benar, berani, dsb).

· Pengertian dan kemampuannya untuk memahami perkembangan jiwa anak serta perbedaan perorangan antara seorang anak dan lainnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ia mengerti psikologi anak.

Untuk membina agar mempunyai sifat-sifat terpuji tidaklah mungkin dengan pengertian saja, akan tetapi membiasakannya untuk melakukan yang baik yang diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat itu dan menjauhi sifat tercela. Kebiasaan dan latihan itulah yang membuat ia cenderung kepada melakukan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, doa, mmembaca Al Qur’an atau menghafal surat pendek, sholat berjamaah disekolah maupun dimasjid harus dibiasakan sejak kecil, sehingga lama kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut. Dengan dibiasakan sedemikian rupa, sehingga dengan sendirinya ia terdorong untuk melakukannya, tanpa suruhan dari luar tapi dorongan dari dalam.

Latihan keagamaan yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan manusia dengan manusia sesuai dengan ajaran agama, jauh lebih penting daripada penjelasan dengan kata-kata. Latihan-latihan disini dilakukan melalui contoh yang diberikan oleh guru atau orang tua. Oleh karena itu, guru agama hendaknya memilki kepribadian yang dapat mencerminkan ajaran agama yang akan diajarkan kepada anak didiknya. Kemudian sikapnya dalam melatih kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan ajaran agama itu, hendaknya menyenangkan dan tidak kaku.

Hubungan antara murid dengan guru hendaknya berdasarkan pengertian dan kasih sayang, sehingga murid itu hormat dan sayang kepada gurunya, bukan takut dan benci. Hubungan yang baik itu akan membantu kecintaan anak terhadap pelajaran yang diberikan kepadanya. Dengan demikian hasil pendidikan akan jauh lebih baik dari pada hubungan yang berdasarkan takut dan benci.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan agama Islam erat kaitannya denga psikologi agama. Bahkan psikologi agama digunakan sebagian salah salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. Untuk membawa anak pada perkembangan yang diharapkan, tentu tidak mudah. Seorang guru harus mempunyai bekal yang cukup, diantaranya: (1) pribadi guru itu sendiri harus baik; (2) pengertian dan kemampuan dalam memahami perkembangan jiwa anak (psikologi anak).

Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah hendaknya dilakukan atau dibiasakan sejak kecil. Latihan keagamaan yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial atau hubungan manusia dengan manusia sesuai dengan ajaran agama, jauh lebih penting daripada penjelasan dengan kata-kata. Pendidikan agama pada anak, harus lebih banyak percontohan dan pembiasaan. Karena pembiasaan keagamaan itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang bertumbuh. Hubungan antara murid dan guru hendaknya berdasarkan pengertian dan kasih sayang, sehingga peserta didik itu hormat dan sayang pada gurunya, bukan takut atau benci. Hubungan yang baik akan membantu kecintaan anak terhadap pelajaran yang diberikan kepadanya.



[1] Jalaludin, 2009. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Grafindo Persada. Hlm.1

[2] Ibid. Hlm. 3

[3] Zakiah daradjat. 2005. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang. Hlm. 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komennya dunxz